Home » , , , , » Willem Wandik Nilai Gereja Berperan jadi Pendamai Masyarakat yang Berkonflik

Willem Wandik Nilai Gereja Berperan jadi Pendamai Masyarakat yang Berkonflik

ILAGA (PUNCAK) - Peranan dari Gereja dalam pembangunan di Kabupaten Puncak cukup besar. Gereja merupakan pihak pertama yang masuk membuka kegelapan. Bahkan saat daerah ini sudah dimekarkan menjadi kabupaten otonom sendiri sejak 2008, yang kemudian muncul perang suku, maka peranan gereja kembali lagi diharapkan bersama dengan pemerintah daerah dalam proses rekonsiliasi atau perdamainan bagi masyarakat Puncak yang sedang konflik.

Hal tersebut disampaikan Bupati Puncak Willem Wandik,SE,M.Si saat peresmian Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua, Pos Pekabaran Injil (PI) Jemaat Betlehem Paturan Kago, di Ilaga, Kabupaten Puncak, Sabtu (10/5).

Bupati Puncak, sebagai anak yang lahir dari seorang pembawa injil, pihaknya menilai bahwa pembangunan Gereja merupakan bagian dari rekonsiliasi di bidang keagamaan, sebab sebelumnya  empat tahun yang lalu, saat perang suku, dimana warga jemaat yang notabe warga Puncak, hidup dalam suasana pertikaian, iri, dendam, sehingga hampir sebagian besar mereka meninggalkan gereja, baik gereja yang ada di Ilaga maupun Distrik Gome sebagai basis perang suku. Gereja kemudian menjadi kosong.

Oleh sebab itu dengan pembangunan Gedung Gereja ini diharapkan mampu mengembalikan iman mereka, untuk berhenti dari perang. Warga bisa kembali hidup sebagai saudara seiman, hidup dalam kasih persaudaraan, dengan penyiraman rohani dari para pendeta, evangelis, penatua, dan guru jemaat dan lainnya.

“Jemaat ini bisa berubah sikap, seperti dendam, emosi, iri, hanya dengan cara gereja, sehingga kita bangun gereja di Ilaga, artinya kami ajak agar jemaat harus kembali ibadah, sehingga melupakan masa lalu mereka,” tuturnya.

Katanya, dengan peresmian gereja ini, menandakan bahwa jemaat ingin kembali bersatu, mereka mengingingkan hal yang baru di kabupaten Puncak. Ini terbukti dengan warga jemaat sendiri dengan swadaya mampu membangun gereja ini dalam waktu empat bulan. Artinya warga jemaat ingin mengucap syukur kepada Tuhan. Mereka ingin sekali kembali hidup dalam suasana kedamaian.

“Ini pertanda, mereka ingin menjalin kasih, mereka ingin membangun dalam rasa kedamaian, kekeluargaan, suka cita  dalam kasih Tuhan,” jelasnya.

Lanjut Willem Wandik, sebagai anak penginjil, dirinya ingin memperhatikan Gereja pada masa kepemimpinannya, salah satunya bukti adalah bantuan operasional yang secara rutin diberikan melalui sokongan APBD Kabupaten Puncak, yang diberikan kepada sinode, klasis, koordinator wilayah dan  gereja, bahkan para pendeta, pelayan, dan penginjil, yang saat ini sudah diberikan honor setiap bulan, sebab dirinya sangat memahami kondisi gereja, di mana Gereja tidak punya pendapatan.

“Di Provinsi, Gubernur berikan 10 persen dari dana Otsus untuk Gereja, oleh sebab itu kami di kabupaten yang mengelola dana 80 persen harus bisa membantu gereja, oleh sebab itu saya sudah serahkan bantuan juga ke Gereja,” ungkapnya.

Bahkan bukan saja bantuan ke gereja, kata Willem Wandik, Pemda juga ikut dalam membangun gereja, terutama gereja yang sudah dibangun oleh jemaat, namun belum selesai,akan  diambil pembangunannya oleh Pemerintah daerah, agar secepatnya bangunan bisa selesai.

“Selain itu kami juga sudah membangun tugu-tugu peringatan injil masuk, misalnya di Distrik Beoga, tugu kemah injil pertama di Papua masuk di sana, yang akan diresmikan oleh Gubernur Papua, 4 Juni mendatang,”tegasnya.

Pihaknya memercayai bahwa orang tuanya yang pernah memberitakan injil harus masuk keluar kampung, mendekati gunung dan melewati sungai, hanya dengan jalan kaki, karena kondisai saat itu tidak ada anggaran yang besar, namun mereka giat memberitakan injil, kondisi tersebut sudah berbeda, dengan uang yang saat ini banyak, maka pelayanan gereja harus lebih ditingkatkan.

“Saya sangat mengerti akan kondisi gereja masa lalu dan saat ini, karena saya lahir dalam situasi seperti itu, sekarang kabupaten ada banyak uang, mengapa kita tidak bantu gereja,”ungkapnya.

Oleh sebab itu kepada Gereja, Bupati berharap, kepada para pendeta dan penginjil, guru jemaat, karena sudah mendapat honor dari pemerintah daerah yang setiap bulan dibayar, maka dirinya meminta agar mereka mampu mendorong iman dalam jemaat untuk bertumbuh, tidak boleh lagi meninggalkan  pelayanan di jemaat atau gereja, tapi harus memberikan siraman rohani secara rutin kepada jemaat.

“Gereja sudah harus berada di tempat, mampu memberikan makaman rohani yang baik kepada jemaat, sehingga jemaat merada damai, tidak ada rasa iri dan dengki, harus hidup dalam persaudaraan, tidak boleh lagi berperang, dengan demikian pemerintah akan membangun daerah,” harapnya.

Menurut Bupati, dengan sinergi yang baik antara gereja dengan pemerintah, dengan sendirinya akan mendorong pihak lain seperti kepala suku, adat, tokoh masyarakat, pemuda, untuk bersatu dengan pemerintah, bergendangan tangan membangun kabupaten Puncak, sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh masyarakat.

“Dengan sinergi yang baik, gereja, adat, akan menjadi satu kekuatan yang cukup besar dalam membangun Kabupaten Puncak,”tukasnya.

Sementara itu,Ketua Klasis Kingmi Ilaga Pdt.Nataniel Magai,S.Th berharap dengan dibangunnya gereja ini, bisa menjadi tempat pembangunan rohani dari jemaat, bahkan dirinya menilai gereja akan siap bermitra dengan pemerintah dalam menyampaikan kehendak Yesus Kristus di Kabupaten Puncak.

“Seluruh masyarakat, saya mengajak supaya kita rajin beribadah kepada Tuhan, dengan kehadiran Tuhan akan membawa kedamaianan kepada kabupaten Puncak,”tambahnya.

Sekadar diketahui, setelah peresmian gereja, dilanjutkan dengan ibadah perdana, dilanjutkan dengan acara khas dari pegunungan tengah yakni bakar batu 23 ekor babi, yang kemudian diakhiri dengan makan bersama. Untuk lebih jelasnya, foto-foto kegiatan ini dapat dilihat pada halaman Papua Society. [CenderawasihPos]

0 comments:

Post a Comment

KIRIM ARSIP

Silahkan kirim arsip berita anda ke berita@papua.us