Home » , , » Pemprov Minta Masyarakat Tidak Terprovokasi Isu

Pemprov Minta Masyarakat Tidak Terprovokasi Isu

SAPA (JAYAPURA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua mengimbau masyarakat di Bumi Cenderawasih untuk tidak terprovokasi dengan isu-isu tak bertanggung jawab yang berkaitan dengan Suku Ras dan Agama (SARA) menjelang pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah atau Lebaran.

Sekretaris Daerah (Sekda ) Provinsi Papua Hery Dosinaen di Jayapura, Senin (4/6) mengatakan dalam perayaan Lebaran ini, semua pihak diharapkan saling menghargai dan terus menjaga keutuhan wilayahnya.

"Kami mengharapkan semua warga tetap menghormati sesama umat yang akan merayakan Lebaran dan tidak terprovokasi oleh oknum-oknum," katanya.

Menurut Hery, semua harus bahu membahu membangun dan melihat Papua tetap utuh sehingga keamanan daerah tetap berada di zona damai.

"Gubernur Papua juga sudah mengimbau bupati dan wali kota agar menjaga keamanan di wilayahnya masing-masing," ujarnya.

Dia menuturkan kepala daerah di kabupaten dan kota harus bisa memfilter segala sesuatu yang masuk ke wilayahnya sehingga tidak mudah terprovokasi.

"Pihak kepolisian juga sudah melaporkan bahwa kondisi dan situasi menjelang pelaksanaan Lebaran di wilayah Bumi Cenderawasih aman terkendali," katanya.

Dia menambahkan untuk itu, butuh bantuan semua warga masyarakat agar ikut menjaga situasI kondusif yang sudah tercipta sejak lama ini sehingga umat yang hendak merayakan hari rayanya dapat menjalani dengan lancar dan aman.

Sebelumnya Pemerintah Pusat melalui Kementerian Agama menetapkan Idul Fitri 1437 Hijriyah dirayakan pada Rabu (6/7) yang diputuskan melalui sidang Istbat yang dipimpin oleh Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin.

"Dari Indonesia barat sampai timur dikonfirmasi perukyat yang telah disumpah tidak melihat hilal," kata Menag Lukman dalam konferensi pers hasil Sidang Isbat 1 Syawal 1437 Hijriah/2016 Masehi di Jakarta, Senin.

Lukman mengatakan berdasarkan hisab, hilal pada 29 Ramadhan atau Senin petang ada di -2 derajat 45 menit dan -0 derajat 49 menit. Dengan kata lain, bulan baru pada 29 Ramadhan berada di bawah ufuk.

Berdasarkan kriteria pemerintah, posisi hilal yang ada di bawah 2 derajat tidak memenuhi ketentuan terlihatnya bulan baru dengan mata telanjang di 90 titik pengamatan. Dengan begitu, hilal tidak mungkin terlihat dan bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari atau Lebaran 2016 jatuh pada Rabu, 6 Juli 2016.

Hal itu berbeda jika bulan terlihat pada hari ke-29 Ramadhan. Jika bulan baru nampak di atas 2 derajat maka sudah dianggap bulan baru. Artinya, pada Senin malam sudah dianggap memasuki 1 Syawal dan pada Selasa (5/7) umat Islam di Indonesia sudah dapat melaksanakan shalat Idul Fitri.

Menanggapi keputusan pemerintah itu, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin mengharapkan perayaan Idul Fitri dapat dilakukan secara bersama-sama.

Selain itu, Ma'ruf Amin juga mengajak umat Muslim untuk mengedepankan kesederhanaan dalam berlebaran.

"Jangan berlebihan, agar sederhana pada kondisi seperti sekarang ini dalam menghadapi Hari Raya Idul Fitri," katanya.

Dia mengatakan hal yang lebih penting saat Idul Fitri adalah seorang individu itu kembali kepada kesucian. Menurut dia, puasa yang dijalankan selama satu bulan pada hakikatnya membawa umat Islam kepada sesuatu yang fitri atau suci.

"Agar kembali fitri setelah puasa. Saat puasa itu melatih kesabaran, kesalehan sosial, solidaritas sesama dikembangkan terus dan kebaikan lainnya," kata dia.(ant)

0 comments:

Post a Comment

KIRIM ARSIP

Silahkan kirim arsip berita anda ke berita@papua.us