Home » , » Redaktur Surat Kabar Sudan Ditahan Karena Kecam Pemimpin Negara

Redaktur Surat Kabar Sudan Ditahan Karena Kecam Pemimpin Negara

SAPA (NAIROBI) - Seorang redaktur surat kabar di Sudan Selatan ditangkap karena menulis artikel mengecam para pemimpin negara atas pecahnya kekerasan awal bulan ini, kata rekannya, Selasa, setelah pertemuan dengan pejabat keamanan.

Alfred Taban, pendiri dan pengelola media swasta "Juba Monitor", ditangkap pada Sabtu sehingga membuat wartawan dan pegiat hak asasi manusia menuntut pembebasannya.

"Mereka menahan Alfred karena dua tulisannya, yang dimuat pada 15 dan 16 Juli," kata Oliver Modi, Ketua Persatuan Wartawan Sudan Selatan kepada Reuters.

Ia mengutip perkataan petugas keamanan yang mengatakan "Alfred akan diajukan ke meja hijau, dan biarlah pengadilan nanti yang memutuskan siapa yang bersalah dan siapa yang tidak." Ia mengatakan belum jelas kapan pengadilan akan dilakukan.

Dalam dua tulisan itu, Taban menyebut Presiden Salva Kiir dan Wakil Presiden Riek Machar tidak mampu mengendalikan pasukan mereka dalam kekerasan terbaru, yang menyebabkan 272 orang terbunuh.

Pertempuran pecah pada 7 Juli di ibukota Juba antara pengikut Kiir dan Machar, mantan pemimpin pemberontak yang menjadi wakil presiden berdasarkan kesepakatan untuk mengakhiri perang saudara yang telah berlangsung selama dua tahun.

Kelompok pembela wartawan, Wartawan Tanpa Batas (RSF) dan Komite Perlindungan Wartawan serta Amnesti Internasional menyerukan pembebasan Taban.

"Kami mendesak pihak berwenang di Sudan Selatan untuk membebaskan Alfred Taban tanpa menunda lagi dan memastikan hak-haknya dihormati dan ia bisa mendapat pelayanan medis," kata pernyataan RSF.

"Penahanan wartawan itu melanjutkan pelanggaran terhadap kebebasan media di negara yang terus masih melanggar kebebasan warga sejak akhir perang saudara," katanya.

Dilaporkan bahwa redaktur lain "Juba Monitor", Anna Nimiriano, dibebaskan setelah menjalani pemeriksaan pada Minggu.

Wartawan sering memprotes hukuman oleh pihak berwenang di negara Afrika itu, yang baru memisahkan diri dari Sudan pada 2011. Sedikit-dikitnya tujuh wartawan terbunuh di Sudan Selatan dan dalam kerusuhan terakhir, seorang wartawan juga terbunuh.

Menteri Penerangan dan juru bicara pemerintah, Michael Makuel, tidak mempunyai komentar mengenai penahanan Alfred Taban dan tidak bertanggungjawab atas penahanan setiap warga Sudan Selatan, baik wartawan maupun bukan. (ant)

0 comments:

Post a Comment

KIRIM ARSIP

Silahkan kirim arsip berita anda ke berita@papua.us