Home » , , » Mengenal Musisi Jazz Asal Indonesia Timur Jeko Fauzy (Bagian III)

Mengenal Musisi Jazz Asal Indonesia Timur Jeko Fauzy (Bagian III)


Jeko Fauzzy

DALAM wawancara Salam Papua dengan Jeko Fauzy pada edisi, Selasa (29/8), Jeko lebih menceritakan tentang pengalaman dirinya ketika menjadi musisi Jazz dan panggung  bersama musisi senior. Untuk kali ini, Jeko akan menceritakan tentang perjalanan musik Jazz.

Berikut wawancaranya :

SAPA : Bung Jeko, tolong ceritakan sedikit mengenai sejarah Jazz di Dunia?
JEKO : Akar dari sejarah lahirnya musik jazz adalah, banyaknya tenaga kerja dari benua Afrika ke benua Amerika yang diperkerjakan sebagai budak  pada tahun 1890  hingga awal 1900. Dengan penderitaan sedemikian rupa dahsyatnya di tanah Amerika pada saat itu, lahir lah musik 'sedih' ( Blues ) atau ungkapan ratapan dari kaum Afrika yg di diskriminasi ras di Amerika. Mereka di pekerjakan di kebun oleh majikan yangg berasal dari Prancis dan Inggris. Saat majikannya memutar musik classic (musik Eropa) melalui piringan hitam. Para pekerja kebun bertanya kepada majikannya "musik apakah itu ??"
Akhirnya sang majikannya meminjamkan mereka para buruh kebun beberapa instrument musik Eropa seperti Trumpet, Flugel, Saxophone,Trombone, Banjo, Contrabass untuk dimainkan para buruh saat mereka selesai makan siang di sebuah kandang kuda. Mereka tidak diperkenankan berbicara saat berkerja tapi mereka diperkenankan untuk nyanyi ( blues) (seperti berbalas pantun di Melayu). Maka singkat nya, blues adalah akar dari lahirnya musik jazz yang merupakan asimilasi dengan musik barat (eropa).

SAPA : Bagaimana dengan perkembangan Jazz di Indonesia ?
JEKO :  Kita harus berbangga sebagai bangsa Indonesia yang memiliki beragam suku dan bahasa, memiliki komposer lagu Kebangsaan Wage Rudolf Supratman yang juga merupakan pianist jazz pada masa nya. Sayangnya artikel ini jarang kita jumpai di perpustakaan Indonesia. Saya mengetahui info ini dari berbagai pelaku sejarah, Musikolog, dan wartawan musik jazz di Indonesia. W.R. Supratman pernah tinggal 3 tahun di Makasar sebagai pianist jazz dengan trionya untuk di berbagai acara atau pesta yang diadakan oleh masa pemerintahan Hindia-Belanda. Komposer lagu perjuangan Ismail Marzuki yang juga violinist dan pianist kalau di analisa musik nya tahun 30-40an (dimana saat itu ke emasan era swing di Amerika) sangat otentik jazz dilihat dari Khord, Irama dan Melody, walaupun tidak ada unsur improvisasi di dalamnya. Di keraton jogja pun tahun 1900an memiliki band jazz keraton yang di bentuk dan dipekerjakan di kerajaan. Di Sabang Sumatera Utara sudah ada band jazz tahun 1900an bisa di lihat photo- photo dari galery di Belanda.  Tidak di pungkiri sejarah jazz Indonesia pertama kali di perkenalkan oleh pemerintah Belanda. Pada 1960an era Jack Lesmana, Bubby Chen, Benny Likumahuwa, Embong Raharjo, Idris Sadri, Elfa Sesoria dll, mulai terpikir untuk sebuah regenarasi musisi jazz hingga akhirnya mereka mendirikan berbagai sekolah musik. Hingga sampai saat ini kita bisa merasakan perjuangan mereka bahwa, Indonesia tidak  pernah kehabisan regenerasi musisi jazz muda. Saya yakin Papua pasti punya sejarah jazz nya sendiri pada masa itu. Tapi mungkin belum terdokumentasi dengan rapih. Mungkin itu tugas kita sebagai generasi penerus ?? Amen.

SAPA : Siapa menurut Bung Jeko  musisi-musisi Jazz Indonesia yang berjasa di awal-awalnya,  sehingga Jazz saat ini bisa berkembang di Indonesia ?
JEKO : Seperti yang saya sebutkan diatas tadi, merekalah yang berjasa untuk kita, mereka bukan cuma musisi tapi juga pejuang di masa nya.  Bahkan tahun 2005 Almarhum Om Idris Sadri dan  almarhum Om Bubby Chen, saya berkesempatan main bersama mereka (waktu itu saya musisi termuda di band itu).  Saya main dengan beliau dan almarhum Bubby Chen.
Mereka bercerita awal tahun 60an mereka konser di Berlin Jazz Festival, dengan rombongan band yang di bentuk oleh presiden RI-pertama Ir. Soekarno. Dalam konser itu mereka membawakan lagu-lagu daerah Indonesia termasuk Yamko Rambe dari Papua.  Tujuanya Soekarno agar dunia tahu bahwa, Indonesia memiliki pemain jazz handal tingkat level dunia dengan intepretasi sebagai orang Indonesia.  Membanggakan! Saya beruntung diceritakan langsung oleh pelaku sejarah.

SAPA : Siapa guitarist Jazz dunia dan Indonesia yang memiliki karakter yang kuat?
JEKO : Untuk hal ini banyak sekali dan gak bisa saya sebutin semua nya. Charlie Christian, Django Reindhart, Rene Thomas, Kurt Rosenwinkel, Stanley Jordan, Lionel Loueke, dll. Kalau di Indonesia ini yang menarik di bicarakan, karena saya pernah terlibat di berbagai festival jazz daerah-daerah di Indonesia. Bahkan mereka lebih berkarakter di bandingkan gitaris yang bermukim di Jakarta, mungkin di sebabkan karena kondisi Jakarta yang punya standart Industri tersendiri. Dan gitaris daerah lebih merdeka dari industri itu sendiri. Di Bali banyak sekali gitaris berkarakter kuat tapi memang bukan di Industri ,maka sepak terjang mereka kita tidak pernah tahu. Dan saya sangat yakin 100000% di Papua khusus nya di Timika saya akan menjumpai hal itu. Amen.

SAPA : Sebernarnya Jazz ini kan luas ya Bung seperti : Jazz swing, Funk Jazz, Fusion dll.  bisa di share mengenai hal ini?
JEKO : Karena musik jazz itu 'menantang' sebuah personal karakter, maka musik ini mengalami perkembangan style yang begitu cepat di bandingkan musik yang lain.
Setiap negara, termasuk Indonesia mempunyai karakterisitik yang berbeda dengan negara yang lain. Sementara di sekolah jazz di dunia mereka menyeragamkan dalam hal edukasi menjadi 'Standard Jazz' basic nya adalah swing jazz dan bebop. Lahirnya Funk dan Fusion sendiri adalah perpaduan jazz standard dengan musik lokal/distrik di Amerika. Misalnya karakter jazz di Manhatan berbeda dengan di California. Fusion sendiri artinya penggabungan! jadi pada tahun 80an era ke emasan musik rock, Miles Davis (legend trumpetist era bebop tahun 50an) mencoba mengajak gitaris Mexico, Santana (latin Rock) untuk gabung dalam band nya. Waktu itu hal yang tidak mungkin terjadi penggabungan dua latar belakang berbeda itu menjadi sebuah musik baru ( fusion).

SAPA : Bung Jeko sendiri lebih memilih genre Jazz apa ?
JEKO : Saya lebih suka memainkan modern jazz dan contemporary jazz. Tetapi tuntutan profesional saya harus bisa memainkan semua style dalam musik jazz. Kebetulan literatur pendidikan mewajibkan saya untuk belajar dari akar hingga kerantingnya.

SAPA  : Kenapa memilih genre Jazz  tersebut?
JEKO : Karena menurut pendapat saya, tidak ada musik lahir di dunia untuk menjadi kuno/klasik!  Musik lahir karena semangat inovasi dari era sebelumnya! maka saya harus menggali potensi saya, update dan upgrade terhadap musik yang saya cintai ini. Aplikasi Facebook aja selalu minta di upgrade setiap dua minggu, kok kita tidak pernah upgrade tools dan ilmu kita yang sedikit ini ?? HeheHe. (Bersambung)

0 comments:

Post a Comment

KIRIM ARSIP

Silahkan kirim arsip berita anda ke berita@papua.us