Home » , , » Pemda dan Rimba Papua Hotel Wajib Perhatikan Warga Terkena Bencana

Pemda dan Rimba Papua Hotel Wajib Perhatikan Warga Terkena Bencana

SAPA (TIMIKA) – Wakil ketua komisi C DPRD Kabupaten Mimika, Philipus Wakerkwa meminta Pemerintah Daerah bersama Rimba Papua Hotel (RPH), untuk memperhatikan masyarakat kecil yang terkena bencana di RT 01 Kampung Mekurima, Distrik Kwamki Narama, kabupaten Mimika, Provinsi Papua.

“Sebenarnya masyarakat itu tidak bisa setiap tahun kena musibah banjir. Air tergenang sampai masuk ke rumah-rumah. Sebenarnya sudah diatasi tapi dari dinas terkait membuat beda,”  ungkap Philipus kepada wartawan di Kwamki Narama, Kamis (11/8).

Lanjut Philipus,  sebelumnya pada pembahasan anggaran tahun 2016 sudah diusulkan untuk masukan dana mengantisipasi banjir, sehingga dana itu untuk selesaikan pekerjaan. Tapi dinas terkait tidak masukan dan merubah besarnya biaya secara sepihak.

Sementara badan anggaran yang ikut dalam pembahasan kaget karena pemerintah dalam hal ini dinas terkait sudah merubah biaya itu.
“Kami waktu itu usulkan Rp6 miliar. Dana ini untuk proses penggalian kali dari kepala air di Ileale sampai tembus jalan RPH. Kalau sudah ada jalan air yang sesuai maka tidak mungkin ada banjir. Tetapi sangat disayangkan karena biaya yang turunkan hanya Rp 500 juta. Ini tidak bisa mengakomodir, karena tiap tahun banjir,” tambah Philipus.

Sementara itu pihak RPH juga sudah diminta untuk melanjutkan penggalian parit tetapi tidak dilakukan juga malah di diamkan. Karena itu masyarakat terus kena banjir.

“Kita mau RPH dengan pemda kalau untuk kepentingan rakyat itu harus betul-betul menangani, jangan setengah-setengah. DPRD sudah turun ke lapangan melaporkan bahwa kejadian emergency, anggaran itu diamankan supaya pekerjaan ini diselesaikan, apalagi ada perintah dari Bupati untuk dituntaskan. Tapi dinas terkait tidak melihat hal itu, malah mengurangi biaya,” tambah Philipus.

Dia menambahkan, RT 01 mekurima ini lahannya berbatasan antara RPH dan pemerintah dalam hal ini tanah pemukiman warga. Sebelumnya sudah seringkali duduk bersama antara masyarakat dan RPH untuk proses penggalian. Tapi RPH tidak pernah merespon. Kasihan masyarakat kecil ini selalu jadi korban, sementara mereka tutup mata melihat jalan keluarnya. (Maria Welerubun)

0 comments:

Post a Comment

KIRIM ARSIP

Silahkan kirim arsip berita anda ke berita@papua.us