Home » , , , » Tuntutan Seorang Guru Sangat Berat

Tuntutan Seorang Guru Sangat Berat

SAPA (TIMIKA) –  Kepala Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan (Dispendasbud) Mimika, Jenni O. Usmani, SPd mengatakan, tuntutan seorang guru sangat berat, karena guru bukan hanya seorang pendidik tapi juga pembentuk karakter sekaligus contoh bagi anak-anak didiknya.

Jenni mengatakan hal tersebut dalam sambutannya saat membuka kegiatan Workshop Pembentukan Karakter Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang diselenggarakan Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Ebenhaizer Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Selasa (2/8). Acara pembukaan ditandai dengan tanda penyematan kartu peserta dan pemukulan tifa.

Jenni mengatakan, tema workshop, ”Mengembangkan Visi Kepemimpinan Pendidik dan Tenaga Kependidikan sebagai Pelaku Perubahan Pendidikan Karakter di Satuan Pendidikan YPK Timika” sangat menarik dan tepat untuk kondisi saat ini, karena pendidikan memegang peranan sangat penting dalam perubahan dan pembentukan karakter seorang anak. Dalam dunia moderen saat ini, bila pendidikan tidak berhasil maka peradaban akan hancur.

“Saya senang dengan kegiatan ini, karena diketahui bahwa guru menjaga apa yang diajarkan di sekolah. Karena dari sekolah, saya belajar bahwa menjadi guru itu tidak gampang. Resapilah tugas kita sebagai guru, percayalah apa yang kita tanam akan kita panen melalui anak,”ujar Usmani.

Jenni menjelaskan, setiap kurikulum pendidikan yang diterapkan pemerintah sudah melalui suatu penelitian. Di Indonesia, kurikulum yang diterapkan umumnya diadopsi dari negara lain. Seperti Kurikulum 2013 (K 13) diadopsi dari Australia. Terkadang karena tidak kontekstual, guru lebih banyak disibukan dengan membuat administrasi, membuat perangkat dan format, sehingga nilai-nilai pendidikan menjadi hilang.

Jenni mengharapkan dalam mengembangkan pendidikan ke depan, ada kerjasama antara pemerintah dan yayasan pengelola pendidikan, sehingga tercapai hasil yang lebih baik.

Ketua PSW YPK Ebenhaezer Timika, Simon Faot saat menyampaikan sepatah kata pada pembukaan workshop ini mengharapkan agar dukungan dari Klasis GKI Mimika dan Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Pendidikan yang sudah berjalan selama ini bisa ditingkatkan karena  YPK Ebenhaezer saat ini sedang membangun gedung untuk SMA YPK Ebenhaizer yang  juga berlokasi di Gorong-Gorong.

“YPK Ebenhaezer Timika saat ini memiliki enam sekolah, terdiri dari tiga Taman Kanak-kanak (TK), satu SD, satu SMP dan satu SMA. Dari enam sekolah tersebut hanya terdapat 20 ruang belajar.  Karena itu kami mohon dukungan  dari Klasis dan pemerintah agar tahun depan pembangunan gedung SMA bisa selesai,” kata Simon.

Simon menjelaskan, pembangunan gedung SMA sudah berjalan dari dua tahun lalu, namun hingga saat ini belum selesai, karena proposal-proposal permohonan bantuan yang diajukan  belum mendapat tanggapan positif.

“Yang kami herankan, bantuan kepada kami tidak bisa tetapi ke sekolah lain bisa. Saya berharap dengan kegiatan workshop untuk meningkatkan kemampuan guru-guru TK, SD, SMP sampai SMA, semua pihak bisa melihat dan bisa membantu kami,” kata Simon.

Ketua Klasis GKI Mimika, Pdt. D. Kaigere, SSi dalam sambutannya mengatakan,  workshop ini penting untuk pendidikan, secara umum kepada semua orang dan lebih khusus di lingkup YPK. 

“Sebelumnya pendidik yang ada di Tanah Papua ini dirintis oleh gereja, setelah itulah baru dikelola pemerintah. Jadi berbicara tentang pendidikan di Tanah Papua, hal itu tidak terlepas dari YPK, ”jelas Kaigere.

Pdt. Kaigere menegaskan, workshop selama tiga hari dengan tema tersebut, ada dua makna yang dikedepankan yaitu, pembentukan karakter pendidik dan bagaimana bicara tentang kearifan lokal. Semua itu benar-benar membawa seorang pendidik untuk bertumbuh berkembang.

Pembukaan workshop ini diawali dengan kebaktian. Pdt. John Nanlohi dalam kotbahnya yang didasarkan pada Mazmur 90 ayat 12 mengatakan, hidup ini singkat, penuh tantangan,  penderitaan dan kesukaran. Karena itu hidup yang singkat  ini harus disiasati dengan baik. Apapun kondisi yang dihadapi dalam perjalanan hidup yang singkat ini, harus tetap menjadi orang-orang yang memiliki hati bijaksana.

“Perlu hati yang bijaksana dalam menyiasati kehidupan yang singkat  ini dengan penuh kesabaran. Sesuai tema kegiatan workshop ini, terbentuklah karakter pendidik dan tenaga pendidik di YPK Ebenhaizer Kabupaten Mimika. Menurut saya tema ini akan melahirkan karakter pendidik yang berkualitas. Pendidik yang bijaksana dan memiliki hati,” kata Pdt John.

Ketua Panitia Worshop, Yosep M. Iha,STh dalam laporannya mengatakan workshop ini diselenggarakan berdasarkan dukungan semua satuan pendidikan dan sumber dana berasal dari satuan pendidik YKP TK, SD, SMP dan SMA YPK Ebenhaizer sebesar Rp 50 juta. Workshop ini diikuti 80 orang.

Narasumber yang menyampaikan materi selama kegiatan workshop yaitu, Direktur Eksekutif YPK di Tanah Papua, Pdt Ricard Pay, STh, LPMI Perwakilan Jayapura, Tim Pengebadan Kurikulum TK, SD, SMP dan SMA, Pdt.Y.Samber, STh.

Acara pembukaan selain dihadiri Kepala Dispendasbud Jenni O. Usmani, SPd dan Ketua Klasis GKI Mimika Pdt. D. Kaigere,SSi, juga dihadiri Kepala Bidang PAUD SD Dispendasbud, Levina M. Kondologit, SPd, tokoh masyarakat dan siswa. Kegiatan selama tiga hari terhitung tanggal 2 sampai 4 Agustus 2016 ini berpusat di gedung sekolah YPK Ebenhaizer Timika di Gorong-Gorong. (Ervi Ruban)

0 comments:

Post a Comment

KIRIM ARSIP

Silahkan kirim arsip berita anda ke berita@papua.us