Home » , » Nasionalisme Buta Mahasiswa Papua

Nasionalisme Buta Mahasiswa Papua

Nasionalisme Buta Mahasiswa Papua
Foto - I Nurdin dan Linda RahmawatiFoto – I Nurdin dan Linda Rahmawati
Aksi tuntutan kemerdekaan West Papua masih terus diupayakan oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB), dengan memanfaatkan masyarakat Papua, khususnya kaum muda dan mahasiswa Papua. Aksi sering diikuti dengan penggunaan berbagai atribut yang seolah-olah menunjukkan kebebasan berekspresi mahasiswa Papua sesuai dengan gaya masing-masing. Akan tetapi, apakah mahasiswa-mahasiswa Papua tersebut mengetahui apa yang diperjuangkan oleh mereka dengan dalih Nasionalisme Papua? Atau, mahasiswa-mahasiswa Papua (lagi-lagi) hanya dimanfaatkan oleh segelintir oknum yang ingin mendapatkan keuntungan dari “teriakan lantang” kemerdekaan Papua.

Berdasarkan kasus tersebut, seharusnya mahasiswa Papua harus mengetahui apa makna nasionalisme yang diperjuangkan oleh mereka. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Nasionalisme berarti paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri, kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan. Dari pengertian ini, jelas jika apa yang dilakukan oleh mahasiswa Papua tidak menujukkan Nasionalisme. Sikap ikut-ikutan “sok” nasionalis hanyalah bentuk fanatisme akan etnis yang melahirkan nasionalisme buta. Ketika nasionalisme buta lahir, tanpa disadari tujuan utama dibentuknya negara pun terlupakan, akibatnya kapitalisme menguasai. Naaah, itulah yang terjadi di Papua saat ini, kapitalisme telah menguasai karena melupakan tujuan dibentuknya negara. Mahasiswa Papua selayaknya berjuang bagaimana memajukan diri agar mampu bersaing dengan daerah lainnya. Betapa tidak, beberapa perusahaan di Papua lebih memilih memekerjakan tenaga yang bukan berasal dari masyarakat asli Papua karena kemampuan sumber daya manusia yang lebih baik. Hal ini yang seharusnya menjadi point penting bagaimana mahasiswa Papua memajukan diri agar bisa meningkatkan persaingan.

Saya masih teringat dengan kata-kata salah seorang mahasiswi asal Papua yang menyatakan, “orang-orang melihat kita berbeda karena kita sendiri yang menilai diri kita beda dengan yang lainnya.” Ini mungkin bisa menjadi analogi jika mahasiswa Papua menilai jika masyarakat Papua mengalami penidasan oleh Pemerintah Indonesia, karena masyarakat Papua sendiri yang menilai hal tersebut. Kenyataannya, bagaimana Pemerintah Indonesia saat ini yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo, sangat concern terhadap peningkatan pembangunan di Papua. Bukan hanya pembangunan fisik tetapi juga pembangunan kemanusiaan.

Sebagai mahasiswa, seharusnya perlu kritis terhadap apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia saat ini. Membangun Indonesia dari pinggir, membangun Indonesia dari Papua. Perlu juga mencermati, apa keuntungan dari aksi ikut-ikutan membela nasionalisme Papua yang hanya menyita waktu dan tenaga, pendidikan tidak selesai tepat waktu. Berapa banyak mahasiswa Papua yang menempuh pendidikan di kota-kota studi yang mampu menyelesaikan pendidikan tepat waktu, belajar di kampus-kampus terbaik. Atau, berapa banyak mahasiswa Papua yang belum menyelesaikan pendidikannya, drop out, hanya berharap anggaran pendidikan yang setiap tahun disalurkan oleh Pemkab/Pemkot masing-masing.

Jika mahasiswa Papua merasa sebagai generasi berpendidikan yang dimiliki oleh Papua, sudah selayaknya bertindak selaku mahasiswa, bagaimana berfikir kritis, bagaimana menyelesaikan pendidikan tepat waktu, bagaimana bekerja membangun Papua, bagaimana meningkatkan daya saing dengan orang lain. Bukan dengan ikut-ikutan gerakan politik yang memanfaatkan mahasiswa Papua. Sangat disayangkan.

Sebagai contoh, salah seorang mahasiswa Papua yang kuliah di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, bercita-cita bekerja di perusahaan multinasional di Afrika. Ini baru dinamakan mahasiswa dengan cita-cita yang tinggi. Mahasiswa tersebut pernah menyatakan jika tidak ada keuntungan mengikuti aksi-aksi yang diselenggarakan atas permintaan kelompok yang ingin memisahkan diri. Dana untuk gerakan yang dikirimkan oleh kelompok-kelompok yang ingin memisahkan diri, hanya “dimakan” oleh petinggi-petinggi organisasi mahasiswa Papua. Oleh karenanya, mahasiswa-mahasiswa Papua berlomba-lomba menjadi pengurus paguyuban/organisasi karena memiliki kewenangan untuk mengelola pendanaan. Apakah ini yang dinamakan nasionalisme atau hanya fanatisme atau bahkan hanya sekedar sikap pragmatisme. Idealisme mahasiswa Papua terkikis oleh pragmatisme. Oleh : I Nurdin dan Linda Rahmawati *)

*) Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana. Tinggal di Mamuju, Sulawesi Barat.

0 comments:

Post a Comment

KIRIM ARSIP

Silahkan kirim arsip berita anda ke berita@papua.us