Cagar Alam Pegunungan Arfak

BERADA di wilayah pegunungan kepala burung bagian barat pulau kasuari New Guinea. Tutupan hutan tropisnya membentang luas, terhampar memenuhi daratan rendah hingga ke puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi. Membuatnya laksana sesosok raksasa bertubuh kekar tinggi dan berjubah hijau tua panjang yang tengah berdiri di pesisir teluk Cenderawasih nan elok. Inilah gambaran kawasan sekitar Pegunungan Arfak yang sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten Manokwari Provinsi Irian Jaya Barat (PB).

Wilayah ini sudah menjadi rumah sekaligus “surga” bagi sederet spesies flora dan fauna unik penghuni pulau ini. Hamparan vegetasi hutan tropis di kawasan ini telah menjadi istana penyedia kehidupan bagi sedikitnya 12.000 jiwa empat suku asli yang bermukim disini yakn; Hatam, Meyakh, Sough dan Moley. Jarak ke kawasan ini sekitar 35 km dari Kota Manokwari. Bila berjalan kaki memakan waktu 2 hari perjalanan. Tapi bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat berban lebar atau sepeda motor menyusuri jalan di sebelah barat yang bermedan rumit. Atau dari arah timur hingga menembus Distrik Oransbari.

Perjalanan ke kawasan ini akan lebih mengesankan bila menggunakan pesawat terbang berbadan kecil jenis Twin Otter, dengan waktu tempuh 25 menit dari bandara Rendani Manokwari. Dari angkasa akan tampak deretan perbukitan, lereng-lerang terjal, lembah dan sungai-sungai yang berkelok dihiasai hijaunya belantara. Kawasan pegunungan Arfak membentang seluas 68.325,00 hektar pada koordinat 133°460’ - 134°150′ E, 1°00′ - 1°30’ S. Memiliki ketinggian antara 15 meter hingga 2.940 meter diatas permukaan laut (dpl).

Pada daerah berketinggian diatas 1000 meter, umumnya bertemperatur udara dingin. Bahkan, sangat dingin hingga menusuk tulang di malam hari pada wilayah berketinggian 2000 meter. Berdasarkan klasifikasi ketinggian, kawasan Pegunungan Arfak memiliki perwakilan tipe ekosistem beragam yang terbagi menjadi tiga tipe ekosistem hutan utama yakni; hutan hujan dataran rendah (lowland forest) yang memiliki ketinggian kurang dari 300 meter, hutan hujan kaki gunung (foothill forest) berketinggian 300-1.000 meter dan hutan hujan lereng pegunungan (lower montane forest) berketinggian 1.000 - 2.800 meter.

Perbedaan zona ekosismen itu membuat kawasan Pegunungan Arfak kaya akan keanekaragaman hayati bernilai tinggi. Hasil ekspedisi selama bertahun-tahun mendapati ada ribuan spesies tumbuhan, 110 spesies mamalia dengan 44 spesies yang telah tercatat, 320 spesies burung (aves), 5 diantaranya merupakan satwa endemik di kawasan Pegunungan Arfak hingga Tambrauw. Misalnya, Cenderawasih Arfak (Astrapia nigra), Parotia barat (Parotia sefilata) dan burung Namdur polos (Amblyornis inornatus) yang oleh suku Arfak Moley disebut burung Mbrecew atau burung pintar.

Burung jenis ini bisa bersiul meniru beragam suara dan mampu membuat sarang dari dedaunan, tangkai anggrek hutan atau rumput kering kemudian meletakannya diatas pohon atau tanah. Bagi para ahli serangga dan peneliti kupu-kupu, kawasan Pegunungan Arfak dikenal sebagai habitat bagi beragam spesies kupu-kupu yang kini diincar para kolektor kupu-kupu internasional. Sebut saja kupu-kupu sayap-burung (Ornithoptera arfakensis, O. rohchildi) yang merupakan salah satu spesies yang menarik perhatian para peneliti ketika berkunjung ke kawasan ini.

Lantaran diminati, keberadaan kupu-kupu jenis itu mulai terancam punah. Para peneliti dan masyarakat setempat telah mengantisipasi lewat upaya penangkaran kupu-kupu jenis itu di beberapa tempat, salah satunya di Kampung Iray sekitar danau Anggi. Kawasan Pegunungan Arfak juga menjadi habitat bagi jenis pohon Arwob (Dodonia fiscosa), kayu Masohi dan ribuan jenis tumbuhan lainnya. Hasil survei Badan Pangan Dunia (FAO) di tahun 2005 menemukan ada 2.770 jenis anggrek hidup disini. Salah satu yang mencolok adalah anggrek Flame of Irian (Mucuna novaeguinea) berwarna khas merah merona hitam.

Anggrek jenis ini merupakan spesies langka di dunia, hanya bisa ditemukan di kawasan Pegunungan Arfak Papua. Beragamannya vegetasi tumbuhan liar membuat kawasan ini kaya akan tanaman berkhasiat obat yang bisa dikembangkan untuk menyebuhkan penyakit. Masyarakat Arfak sendiri memang telah memiliki pengetahuan tradisional etno-medicine dalam memanfaatkan jenis-jenis tumbuhan tertentu sebagai penyembuh penyakit atau menjadi bahan ramuan pada ritual-ritual adat.

Yang jelas, kawasan Pegunungan Arfak memang sangat memikat. Dengan karakteristik demikian, Pemerintah RI di tahun 1992 telah menetapkannya menjadi kawasan Cagar Alam (CA) Pegunungan Arfak melalui keputusan Menteri Kehutanan No. 783/Kpts-II/1992 tertanggal 11 Agustus 1992. Dalam keputusan itu ditetapkan bahwa kawasan ini membentang seluas 68.325,00 hektar. Mencakup 8 wilayah Distrik seperti; Menyambouw, Membey, Hingk, Tanah Rubuh, Warmare, Manokwari Selatan, Ransiki dan Oransbari.
Cakupan area yang luas, membuat para peneliti sejauh ini belum bisa mendata keseluruhan potensi keragaman hayati (biodiversity) yang tersimpan di kawasan ini. Para peneliti masih terus berlomba menemukan adanya spesies flora dan fauna yang benar-benar baru dalam ilmu biologi, botani dan taksonomi. Tak heran bila kawasan CA Pegunungan Arfak menjadi salah satu tempat di pulau New Guinea bagian barat yang masih menyimpan aneka misteri spesies langka, selain kawasan Pegunungan Mamberamo Foja. Beragamnya objek penelitian di area ini pun menarik minat ahli ekologi dan geologi.
Seorang peneliti serangga dan kupu-kupu asal Belanda, Henk Van Mastrigt, yang sudah puluhan tahun meneliti di sejumlah tempat di Tanah Papua pernah menuturkan bahwa kawasan CA Pegunungan Arfak ibarat “laboratorium alam” yang bernilai bagi ilmu pengetahuan. Disinilah firdaus bagi ribuan spesies flora dan fauna, hingga daerah asal legenda ikan Houn (semacam belut). Konon, ikan Houn dikisahkan oleh masyarakat Arfak hidup di dua danau bernama Anggi Giji dan Anggi Gita yang berada di ketinggian 2000 meter.

Eksotisme kawasan CA Pegunungan Arfak juga didukung objek gua-gua alam berkedalaman 2000 meter yang terbentuk ribuan bahkan jutaan tahun silam. Beberapa diantaranya dianggap sebagai gua alam terpanjang di dunia dan tentu saja menyimpan misteri kehidupan di dalamnya. Keunggulan potensi alam yang darinya bernaung kehidupan sosial budaya tradisional suku Arfak, sesunguhnya membentuk daya pikat tersendiri. Rumah adat kaki seribu dan atraksi tarian ular suku Arfak sejauh ini masih menjadi daya tarik pariwisata bagi para penikmat budaya asli Papua.

Nah, sebetulnya kemolekan kawasan ini sudah dikagumi sejak dulu oleh para misionaris Eropa, Amerika dan Australia sepeninggal dua misionaris pertama asal Jerman C.W, Ottow dan J.G. Geissler. Bahkan jauh sebelum dua misionaris pertama itu menginjakan kakinya, kawasan Pegunungan Arfak sudah lebih dulu menjadi tempat koleksi biologi pertama di pulau New Guinea yang dikembangkan beberapa peneliti Eropa seperti, Lesson, Beccari dan Albertis sekitar tahun 1824-827 dan 1872-1875.

Ketika wilayah New Guinea bagian barat dikuasai Belanda dengan nama Netherland Nieuw Guinea, kawasan Pegunungan Arfak tetap menjadi salah satu area tujuan ekspedisi ilmiah para peneliti dari berbagai negara. Alhasil, ini terus berlanjut hingga sekarang. Soalnya kemolekan kawasan CA Pegunungan Arfak masih menyita rasa ingin tahu para peneliti. Namun sayang, ancaman tergerusnya eksotisme kawasan ini tetap saja ada. Aktivitas pembangunan dan wacana pemekaran wilayah yang tidak memperhatikan pelestarian lingkungan kini menjadi tantangan terberat yang menghadang.

Padahal, Pemda Kabupaten Manokwari dan Pemprov Irian Jaya Barat (PB) mestinya menjamin status dan fungsi kawasan CA Pegunungan Arfak sebagai area konservasi, menyusul rencana pemekaran Kabupaten Pegunungan Arfak dan Manokwari Selatan. “Yang terpenting bagaimana mempertahankan fungsi kawasan ini dan keasliannya bisa terjaga,” ujar Mujianto, direktur eksekutif Lembaga Pengembangan Masyarakat dan Konservasi Sumberdaya Alam (Perdu). Dia menuturkan, jaminan ini penting karena dikuatirkan pelebaran kota dan pembangunan infrastruktur akan diarahkan ke kawasan ini.
Masuknya investasi yang merambah hutan akibat perubahan paradigma pembangunan dan lunturnya kearifan masyarakat asli, dapat membuat kawasan penyimpan satwa endemik itu lenyap. Mujianto menegaskan, percepatan pemekaran wilayah kepala burung Pulau Papua, khususnya Manokwari lebih berpotensi mengancam kawasan konservasi dan membuat penduduk asli terdesak. Pembuatan jalan lingkar, percepatan pemekaran dan perluasan lahan kelapa sawit, tentu menjadi contoh nyata kalau posisi CA Pegunungan Arfak bernilai strategis bagi pengembangan sentra ekonomi daerah.
Di lain pihak, kawasan ini masih menjadi sumber kehidupan dan inspirasi utama bagi warga suku besar Arfak. Mereka yang bermukim di sekitar kawasan ini umumnya menggantungkan hidup dengan memanfaatkan potensi hutan secara tradisional. Bila pemekaran wilayah ‘ngotot’ dilakukan diikuti eksploitasi kawasan atas nama pembangunan, bukan mustahil kawasan CA Pegunungan Arfak yang dikagumi bakal tergerus secara perlahan. Karena itu, pentingnya kelestarian kawasan menjadi kata kunci.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License